HATI NURANI

Bookmark and Share
1. Hati Nurani sebagai fenomena moral

Tiga contoh
Setiap manusia mempunyai pengalaman tentang hati nurani dan mungkin pengalaman itu merupakan perjumpaan paling jelasdengan moralitas sebagai kenyataan.
Sulit untuk menunjukan pengalaman lain yang dengan begitu terus terang menyingkapkan dimensi etis dalam hidup kita. Karena itu pengalaman tentang hati nurani itu merupakan jalan masuk yang tepat untuk suatu studi mengenai etika.

Contoh 1, orang yang merasa bersalah kerena ia melakukan suap. Kehidupannya tidak bahagia karena selalu dihantui perasaan bersalah.

Contoh 2, Thomas grissom ahli fisika yang membuat bom nuklir merasa bersalah karena sesungguhnya dia menolak perang nuklir yang dapat merusak bumi.

Contoh 3, pada bhagavad gita ada suatu contoh perang saudara, ketika itu krisna mengalami situasi yang pelik ketika akan berperang melawan, guru, sahabat, sanak saudara yang akrab dengannya.

2. Kesadaran dan hati nurani

Dengan “hati nurani” kita maksudkan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani ini memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu kini dan disini. Ia tidak bicara tentang yang umum, melainkan situasi yang sangat konkret. Tidak mengikuti hati nurani berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan menghianati martabat terdalam kita.

Hati nurani berkaitan erat dengan kenytaan bahwa manisia memilikai kesadaran. Untuk menunjukan kesadaran, dalam bahasa latin dan bahasa-bahasa yang diturunkan dari padanya, dipakai kata conscientia. Berasal dari kata kerja scire ( mengetahui) dan awalan con (bersama dengan, turut). Dengan demikian artinya berarti “penggadaan” . hati nurani merupakan semcam saksi tentang perbuatan moral kita. Kata itu diungkapkan dengan baik melalui kata latin conscientia.

3. Hati nurani retrospekstif dan hati nurani prospsektif

Hati nurani retrospektif memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung dimasa lampau. Hati nurani dalam arti retrospektif menuduh atau mencela, bila perbuatannya jelek (bad conscient), dan sebaliknya, memuji atau memberi rasa puas, bila perbuatannya dianggap baik (a good conscient/ a clear conscient). Jadi, hati nurani ini merupakan instansi kehakiman dalam batin kita tentang perbuatan yang telah berlangsung.
Beberapa filsuf berpendapat bahwa hati nurani dalam keadaan gelisah (a bad conscient) merupakan fenomena paling mendasar. Itulah menurut mereka, hati nurani dalam arti sebenarnya. Disini tampak paling jelas dampak dan tuntutan moralitas atas seseorang. Menurut pendapat filsuf jerman-amerika, Hannah arendt (1906-1975), umpamanya hati nurani tenang hanya berarti tiadanya hati nurani yang gelisah. Maksudnya hati nurani sebagai instansi yang menilai terutama bertindak negatif : mengecam dan mencela.
Hati nurani prospektif melihat kemasa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita dimasa yang akan datang. Hati nurani dalam arti mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau seperti barangkali lebih banyak terjadi mengatakan “jangan” dan melarang untuk melakukan sesuatu (aspek negatif lebih mencolok) .

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar